Beberapa tahun yang lalu, ketika
masih anak-anak, saya dan beberapa teman pergi untuk memancing Kepiting
di rawa-rawa pesisir pantai Semarang. Bagaimana cara memancing kepiting
?
Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu
itu, diujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil. Lalu kami
mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju kepiting yang
kami incar, kami mengganggu kepiting itu dengan batu, menyentak dan
menyentak agar kepiting itu marah, dan kalau itu berhasil maka kepiting itu akan ‘menggigit’
tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau
tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung
tali berisi seekor kepiting gemuk yang sedang marah.
Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju
sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di
bawah wajan itu ada sebuah perapian dari kayu dengan api yang sedang
menyala yang telah kami persiapkan sebelumnya. Kami celupkan kepiting
yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting
melepaskan gigitan-nya dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian
kami bisa menikmati kepiting rebus yang sangat lezat.
Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya,
karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang
bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil.
Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan,
menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan
kehilangan segalanya karena : MARAH.
Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu
besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan
penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu
pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air
dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan
panas yang bisa menghancurkan masa depan anda.
Semoga menginspirasi anda.
kirim ke teman |
versi cetak